4 Tekanan Yang Membuat Anda Depresi Dengan Pernikahan

4 Tekanan Yang Membuat Anda Depresi Dengan Pernikahan

4 Tekanan Yang Membuat Anda Depresi Dengan Pernikahan4 Tekanan Yang Membuat Anda Depresi Dengan Pernikahan

Pernikahan seharusnya membuat anda dan pasangan merasa bahagia bukan malah sengsara. Ketika anda merasa sangat depresi akan pernikahan, maka artinya anda mulai kehilangan gairah cinta dengan pasangan anda saat ini. tentu anda tidak boleh membiarkan depresi tersebut berlarut-larut, karena hal itu akan memperburuk hubungan anda dengan pasangan.

Anda harus memulai sebuah tindakan dan meninggalkan sesuatu yang memicu terjadinya depresi baik itu seseorang atau pasangan maupun lingkungan. Namun, meninggalkan bukanlah hal yang mudah dan sering sekali berakhir dengan tidak baik. Akibat dari depresi yang disebabkan oleh pernikahan terkadang menimbulkan masalah baru misalnya pertengkaran, perpisahan, hingga tindakan nekad yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Mengapa pernikahan yang seharusnya membahagiakan menjadi menyakitkan bagi sebagaian orang? Mengapa hubungan yang anda jalani saat ini justru membuat anda semakin tertekan? Berikut ini adalah 4 masalah yang menyebabkan anda merasa depresi karena cinta. Simak penjelasannya di bawah ini :

1.      Tekanan dari luar

Dalam kehidupan sehari-hari tentu anda akan banyak berinteraksi dengan orang lain selain pasangan. Bahkan terkadang anda menerima doktrin dari berbagai media mengenai hubungan pernikahan anda. Misalnya saja orangtua yang mengeluh karena anda dan pasangan tak kunjung memiliki anak, atau orang lain yang menilai pernikahan anda sebagai pernikahan yang gagal. Padahal yang sebenarnya anda dan pasangan justru menikmati kehidupan bersama.

Meskipun disampaikan dalam bentuk gurauan biasa, namun siapa yang tidak stress jika sepanjang hari mengalami hal seperti itu. Padahal setiap orang memiliki kriteria sukses dalam kehidupan cinta yang berbeda-beda. Semestinya tak semua orang berhak menentukan sendiri dengan kehidupan pernikahan yang dijalani.

2.      Tekanan ekonomi dan masalah lainnya

Hidup susah mau ngasih makan istri bagaimana? Penghasilan minim bagaimana membiayai anak sekolah? Hubungan anda dengan pasangan sudah berantakan jadi buat apa bertahan?

Pernikahan sering dijadikan penyelesaian masalah ekonomi atau pelarian lain yang mungkin membuat anda terjebak. Namun saat anda menjalaninya justru anda semakin menderita. Perlu dipahami jika dari awal anda memiliki masalah ekonomi dan tidak sanggup bertanggung jawab atas hidup anda sendiri, lalu bagaimana anda bisa membiayai pasangan? ingatlah pernikahan membutuhkan banyak persiapan salah satunya ada kestabilan finansial.

3.      Tekanan dari keluarga

Meskipun anda resmi menikah, namun bukan berarti anda melepaskan diri dari keluarga. Baik itu orangtua kandung atau mertua, saudara ipar, dan kerabat lainnya. Anda terlalu sibuk menyenangkan hati keluarga besar hingga melupakan kesenangan diri anda sendiri. tuntutan dari anggota keluarga memang tidak akan ada habisnya dan membuat anda merasa depresi. Anda harus memahami jika keluarga boleh memberikan saran, namun jangan sampai mereka ikut campur dalam urusan pernikahan anda.

4.      Memiliki pasangan yang tidak tepat

Banyak orang yang bilang jika menikah tak perlu menunggu jatuh cinta. Cinta akan muncul seiring dengan berjalannya waktu. Namun anda harus tahu pasangan hidup anda membuat rasa tidak nyaman justru akan memicu depresi yang lebih serius. Misalnya ketidakcocokan sifat dapat menciptakan konflik berkepanjangan dalam hubungan. Terkadang ada kalanya anda tidak dapat menghadapi kekurangan pasangan keran memang tidak ada kenyamanan karakter baik anda maupun pasangan.

Oleh karena itu alangkah baiknya sebelum memutuskan menikah, kenali lebih dulu pasangan. temukan kecocokan sebelum akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius.

Jika anda masih kebingungan dengan penjelasan di atas anda dapat menghubungi layanan kami melalui website kami di maragama.com atau menghubungi kontak WhatsApp kami 081229675588.

Semoga informasi diatas bermanfaat bagi kita semua, salam sehat jiwa!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *