Belum Siap Punya Anak Namun Takut Pasangan Kecewa? Simak Cara Tepat Berkompromi

Belum Siap Punya Anak Namun Takut Pasangan Kecewa? Simak Cara Tepat Berkompromi

Belum Siap Punya Anak Namun Takut Pasangan Kecewa? Simak Cara Tepat Berkompromi

Bagi beberapa pasangan kehadiran anak dalam pernikahan tentu membawa kebahagiaan tersendiri, maka tak jarang banyak pasangan yang sesegera mungkin melakukan program kehamilan setelah resmi menikah. Namun, ada beberapa orang yang justru ingin menunda momongan karena merasa belum siap. Memang merencanakan kehamilan memang membutuhkan kesepakatan dan kesiapan bersama. Akan tetapi, bagaimana jika anda merasa belum siap sedangkan pasangan mendesak untuk segera memiliki momongan? Simak tipsnya berikut ini.Belum Siap Punya Anak Namun Takut Pasangan Kecewa? Simak Cara Tepat Berkompromi

Berkompromi dengan pasangan saat belum siap memiliki momongan

Ada banyak alasan mengapa seseorang merasa belum siap untuk memiliki anak. agar anda dan pasangan sama-sama menemukan jalan tengah, simak cara berkompromi yang tepat di bawah ini:

1.      Bersikap terbuat satu sama lain itu perlu

Hal pertama yang harus anda lakukan sebelum resmi menikah adalah berdiskusi dengan pasangan mengenai kehidupan pernikahan termasuk kesiapan memiliki anak. Dengan demikian, anda berdua akan lebih banyak waktu untuk menentukan pilihan yang disepakati bersama.

Sampaikan alasan anda untuk mengapa anda belum siap memiliki anak, kemudian dengarkan penjelasan pasangan mengapa ia tidak ingin menunda momongan. Usahakan anda berdua menjaga suasana diskusi tetap hangat dan tenang. Hindari sikap menghakimi atau menyampaikan kritik secara langsung kepada pasangan, karena hal ini akan memicu pertengkaran antara anda berdua.

2.      Pastikan anda memiliki alasan yang tepat mengapa belum siap memiliki anak

Sebelum anda memulai berdiskusi dengan pasangan. pastikan anda telah menyiapkan berbagai alasan yang rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Alasan inilah yang dapat menggugah hati pasangan anda, agar ia mengerti apa yang sebenarnya anda khawatirkan. Sehingga mungkin ia bisa menyetujui pendapat anda untuk menunda momongan.

Mungkin anda bisa mengatakan jika kondisi finansial yang belum stabil sehingga anda takut jika kebutuhan anda tidak dapat tercukupi, ada tuntutan pada pekerjaan atau anda ingin melanjutkan pendidikan kembali ,atau anda memiliki kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan tertentu. Sampaikan alasan-alasan anda dengan baik, ingat alasan tersebut adalah alasan yang sebenarnya jangan anda buat-buat.

3.      Saling membangun rasa tanggung jawab satu sama lain

Ada banyak pasangan yang menunda kehamilan karena khawatir dengan tanggung jawab  yang dihadapi entah dari sisi finansial, emosional, psikologis dan lain sebagainya. Untuk menghadapi situasi seperti itu, ada baiknya anda berdua memanfaatkan waktu menunda tersebut sebagai masa belajar untuk membangun rasa bertanggung jawab. Misalnya jika anda berdua memutuskan untuk menunda kehamilan karena kondisi finansial yang kurang mapan, maka ada baiknya saat ini anda dan pasangan mulai menabung. Atau jika anda merasa kurang siap secara emosional maka tak ada salahnya untuk melakukan konseling pernikahan.

4.      Menjalani konseling pernikahan

Masalah mengenai perencanaan kehamilan sebenarnya dapat diselesaikan berdua jika diskusi yang dibangun itu baik. Namun, sering kali pasangan selalu terjebak pada perdebatan  sehingga menimbulkan sebuah konflik. Untuk itu ada baiknya anda dan pasangan melakukan konseling pernikahan.

Terkadang, ada alasan yang tak bisa anda katakan pada pasangan, begitu pula sebaliknya. Untuk itu peran konselor di sini adalah sebagai mediator, untuk menggali masalah lebih dalam sehingga memperoleh solusi yang tidak merugikan kedua pihak.

Jika anda masih kebingungan dengan penjelasan di atas anda dapat menghubungi layanan kami melalui website kami di maragama.com atau menghubungi kontak WhatsApp kami 081229675588.

Semoga informasi diatas bermanfaat bagi kita semua, salam sehat jiwa!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *