Hindari Hal Ini Pada Anak Paska Perceraian

Hindari Hal Ini Pada Anak Paska Perceraian

Hindari Hal Ini Pada Anak Paska PerceraianHindari Hal Ini Pada Anak Paska Perceraian

Kabar perceraian dalam pernikahan tentu membawa luka bukan hanya bagi kedua pasangan saja, namun anak dan seluruh keluarga besar mungkin merasakan hal yang sama. Dari seluruh anggota keluarga mungkin anak adalah pihak yang paling terluka.

Perceraian yang dilakukan oleh kedua pasangan tentu saja bukan sebuah keputusan yang sembarangan. Tentu ada banyak pertimbangan yang didiskusikan sebelumnya. Pertikaian yang sulit diselesaikan dan berbagai cara dilakukan agar kedua pasangan dapat bersatu kembali namun tidak ada hasil. Mungkin itu menjadi alasan kenapa perceraian menjadi solusi yang terakhir.

Hal yang harus dihindari kedua pasangan

Namun yang menjadi PR besar kedua pasangan paska bercerai adalah bagaimana dengan anak mereka? Mengasuh anak bersama saat kondisi keduanya resmi berpisah  bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa hal yang harus dihindari kedua pihak, diantaranya sebagai berikut :

1.      Jangan jadikan anak sebagai jembatan komunikasi anda dan mantan pasangan

Paska perceraian terkadang sulit bagi kedua pihak untuk menjalin komunikasi yang baik. Sering kali keduanya merasa canggung dan enggan memulai obrolan. Yang pada akhirnya anak harus terlibat dalam masalah tersebut. kedua pasangan menjadikan anak sebagai jembatan penghubung komunikasi, namun menurut seorang konselor keluarga perceraian bernama M. Gary Neuman menyatakan bahwa menjadikan anak sebagai jembatan komunikasi kedua pasangan yang telah bercerai bukanlah hal yang bijak.

Untuk itu, cobalah untuk mencari media komunikasi lain, jika anda merasa kesulitan untuk berbicara secara langsung cobalah berkomunikasi dengan pesan singkat. Meskipun dalam benak anda malas untuk menjalin hubungan kembali namun ingatlah jika dia juga orang tua dari anak anda.

2.      Jangan meminta anak untuk membuat sebuah pilihan

Saat perceraian terjadi bukan berarti anda menuntut anak untuk membuat sebuah piliha dengan siapa dia akan hidup. Meskipun saat ini anda dan pasangan tak lagi satu rumah namun  jangan biarkan anak kehilangan “tempat” yang membuat hatinya nyaman. Bagaimanapun anak tetap diberikan ruang dimana dia bisa mengobrol atau bertemu dengan mantan pasangan anda. Jangan biarkan anak merasa kehilangan salah satu peran orang tuanya sehingga membuatnya kesepian.

Meskipun hak asuh berada di salah satu pihak, nnamun bukan berarti dia memiliki kekuasaan dan mengambil hak asuh sepenuhnya terhadap anak. Berilah akses kapanpun saat anak ingin bertemu mantan pasangan anda.

3.      Jangan mendorong anak untuk membicarakan perceraian

Perceraian yang anda lakukan mungkin merupakan aib bagi sang anak. Bisa saja ketika orang sekitarnya mengetahui itu, sangat memungkinkan jika anak menjadi bahan lolucon baik dalam hubungan pertemanan atau lingkungan sosial lainnya. Saat anak mengeluhkan apa yang mereka alami, biasanyan orang tua meminta anak untuk mengatakan kondisi yang sebenarnya. Padahal hal tersebut adalah tindakan yang keliru, anak akan semakin terpuruk dengan perpisahan yang terjadi. Berikanlah anak ruang untuk menenangkan diri, karena memaksa mereka untuk menerima hal yang tidak diinginkan akan menumbuhkan kebencia pada orangtuanya.

4.      Jangan ragu untuk berkonsultasi

Mengasuh anak setelah perceraian bukanlah hal yang mudah, kedua pihak harus saling bekerja sama. Selain itu untuk menghilangkan rasa traumatis dan kebecian pada anak sebaiknya anda coba untuk melakukan konsultasi. Selain belajar tetap menjadi orang tua yang baik demi anak, dengan konsultasi anak bisa menemukan berbagai strategi membesarkan anak tanpa menyakitinya dengan kondisi anda yang telah bercerai dengan pasangan.

Jika anda masih kebingungan dengan penjelasan di atas anda dapat menghubungi layanan kami melalui website kami di http://maragama.com atau menghubungi kontak WhatsApp kami 081229675588.

Semoga informasi diatas bermanfaat bagi kita semua, salam sehat jiwa!

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *