Saat Pernikahan Berakhir Pada Bercerai, Cara Mengurangi Trauma Pada Anak

Saat Pernikahan Berakhir Pada Bercerai, Cara Mengurangi Trauma Pada Anak

Saat Pernikahan Berakhir Pada Bercerai, Cara Mengurangi Trauma Pada Anak

Saat mendengar kedua orangtua harus berpisah tentu anak-anak akan merasa terluka secara psikologis, tak jarang terkadang anaklah yang harus menjadi korban. Meskipun kedua pasangan sepakat dengan keputusan untuk berpisah hal itu belum tentu disetujui oleh anak. tak jarang terkadang perubahan sikap mereka tunjukan sebagai bentuk penolakan.Saat Pernikahan Berakhir Pada Bercerai, Cara Mengurangi Trauma Pada Anak

Namun nasi telah menjadi bubur, keputusan telah bulat. Mungkin bagi anda bertahan dengan pasangan lebih menyakitkan dibanding berpisah dengannya. Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana anda dan mantan pasangan menggurangi rasa trauma pada anak?

Agar anak tidak menjadi korban perceraian orangtua

Anak seringkali menjadi korban dari hubungan orangtuanya yang tak harmonis. Hal ini tidak dapat dihindari ataupun diingkari. Trauma atau perasaan bersalah pada anak terkadang menjadi sebuah konsekuensi yang dirasakan oleh kedua belah pihak atas keputusannya untuk berpisah.

Meskipun demikian, ternyata ada yang dapat anda lakukan untuk mengurangi dampak buruk pada sang anak. berikut ini merupakan cara mengurangi trauma psikologis pada anak akibat dari perceraian.

1.      Yakinkan anak anda jika dia akan selalu dicintai

Saat salah satu orangtua tak memenuhi jadwal kunjungan ke anak, seringkali anak merasa bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri. Terkadang terlintas dalam pikiran mereka, andai mereka menjadi anak yang lebih baik tentu perceraian ini tak mungkin terjadi.

Menurut Edward Teyber, seorang profesor psikologi dari California State University sekaligus penulis buku Helping Children Cope With Divorce. Hal ini akan membuat rasa kepercayaan diri anak menurun. Dalam kondisi ini tentu anda perlu meyakinkan anak jika mereka tetap dicintai sama seperti saat anda dan mantan pasangan masih bersama.

Katakan hal-hal baik pada anak, yakinkan meskipun salah satu orangtuanya tidak berkunjung namun rasa cintanya terhadap anak sangatlah besar.

2.      Jangan tutupi situasi

Terkadang banyak orangtua bersikap tidak konsisten, hal inilah yang membuat anak merasa curiga padahal apa yang terjadi sebenarnya dapat diketahui oleh anak. misalkan mantan pasangan tidak dapat mengunjungi anak karena sakit flu. Namun di hari tersebut anda tetap berangkat kerja.

Menurut M. Gary Neuman seorang terapis keluarga, dalam kondisi ini sebaiknya anda menghindari sikap menutupi atau membela mantan pasangan anda dari anak. biarkan anak meluapkan rasa kecewanya kepada mantan pasangan anda.

3.      Buat rencana cadangan

Terkadang orangtua yang tinggal bersama anak perlu menyiapkan rencana cadangan jika apabila mantan pasangannya sering mengingkari janji untuk menemui si anak. anda bisa menyiapkan rencana yang seperti menonton film di bioskop, berjalan-jalan ke mall, berolahraga bersama, atau kegiatan lain yang disukai anak.

Namun sebelumnya putuskan berapa lama anak akan menunggu mantan pasangan anda. Jika ia melampui batas waktu yang disepakati, maka ada baiknya anda melaksanakan rencana tersebut. jika anda merasa kecewa maka biarkan dia berkeluh kesah, tanpa perlu menghakimi pihak salah satu pihak.

4.      Dorong anak untuk bercerita

Saat mantan pasangan anda jarang mengunjungi anak terkadang hal itu membuat mereka merasa kecewa. Pada saat inilah cobalah ajak anda untuk bercerita secara langsung. dengan berbicara hal ini akan menguragi rasa frustasi mereka. Apabila anak anda belum siap untuk menceritaan secara langsung tentang kekecewaan mereka, maka tawarkan padanya untuk menulis dalam surat atau pesan singkat.

Jika anda masih kebingungan dengan penjelasan di atas anda dapat menghubungi layanan kami melalui website kami di maragama.com atau menghubungi kontak WhatsApp kami 081229675588.

Semoga informasi diatas bermanfaat bagi kita semua, salam sehat jiwa!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *