Saat Seorang Ibu Kehilangan Hak Asuh Anaknya Selepas Bercerai

Saat Seorang Ibu Kehilangan Hak Asuh Anaknya Selepas Bercerai

Saat Seorang Ibu Kehilangan Hak Asuh Anaknya Selepas Bercerai

Bagi setiap ibu yang kehilangan hak asuk setelah bercerai dari sang suami bagaikan mimpi buruk. Memang salah satu risiko yang didapatkan dari perceraian adalah kehilangan hak asuh anak. tentu saja bagi orangtua hal ini sungguh berat, baik itu pihak ayah maupun ibu. Terpisah dengan anak kandung tentu membuat hari-hari mereka merasa kesulitan.Saat Seorang Ibu Kehilangan Hak Asuh Anaknya Selepas Bercerai

Perasaan ibu yang terpisah dengan anaknya sendiri

Menghadapi kenyataan seperti ini tentu bukan hal yang mudah, mengandung selama 9 bulan 10 hari, berjuang melahirkan serta mengasuh sang anak tentu bukan hal yang mudah. Meskipun demikian ternyata berpisah dengan anak lebih berat dibandingkan perjuangan semua hal tersebut. Tak jarang kehilangan hak asuh anak membuat seorang ibu depresi bahkan berniat mengakhiri hidup.

Rasa rindu terhadap anak yang besar bagaikan sebuah hukuman dari kesalahan yang dilakukan saat masih bersama mantan suami. Hari-hari terasa kosong, dan menangis menjadi kegiatan setiap hari. Bahkan banyak wanita yang kehilangan hak asuh anak yang mempertanyakan kelayakannya menjadi sosok ibu. Mereka juga sering menyalahkan diri sendiri. beberapa dari mereka memilih untuk mengisolasikan diri dan menjauh dari orang-orang terdekat baik itu teman atau keluarga. Bahkan yang lebih parah anggapan negatif masyarakat mengenai ibu yang kehilangan hak asuh anak menambah beban derita mereka.

Ibu yang dengan ikhlas memberikan hak asuhnya

Meskipun berat, tak sedikit ibu yang dengna ikhlas melepas hak asuh anak pada mantan suaminya. Hal ini bukan karena mereka tak cinta lagi, namun kehilangan sumber penghasilan selepas bercerai sering menjadi alasan utamanya. Mereka percaya jika kebutuhan pokok anak akan jauh tercukupi saat bersama sang ayah. Karena kondisi finansial yang lebih stabil dibanding dirinya, sebenarnya bisa saja seorang ibu mencukupi kebutuhan dirinya dan sang anak.

Namun mereka perlu bekerja lebih keras mencari pekerjaan baru jika kondisi sebelumnya adalah ibu rumah tangga. Bahkan beberapa dari mereka rela pergi ke luar kota untuk  mencukupi kebutuhan keluarga, namun ternyata kerabat atau orang yang dapat dipercaya mengasuh anaknya selama pergi bekerja.

Atas dasar itulah, mereka dengan ikhlas merelakan anak tercinta bersama sang ayah. Rasa cinta yang besar terhadap anak tercinta menjadi alasan terbesarnya. Bagaimana pun setiap ibu tentu ingin melakukan terbaik bagi anaknya, dan merelakan mereka adalah salah satunya.

Ibu yang ‘terpaksa’ mengikhlaskan hak asuh anak

Namun masih banyak ibu yang terpaksa mengikhlaskan hak asuh anak ke mantan pasangannya. Seperti yang perlu diketahui jika Hukum di Indonesia umumnya menjatuhkan hak asuh anak di bawah 12 tahun kepada ibu. Akan tetapi terdapat beberapa alasan yang membuat seorang ibu kehilangan hak asuhnya seperti penghasilan serta tempat tinggal yang belum pasti. Bahkan beberapa dari mereka sempat mengalami intimidasi agar merelakan hak asuh anak pada sang ayah. Banyak ibu yang berjuang untuk memperoleh hak asuh anak. bahkan beberapa dari mereka sampai mengalami Serious Mental Illnes (SMI) akibat dari kehilangan hak asuh.

SMI atau Serious Mental Illner merupakan gangguan menal yang dapat membuat seseorang mengalami penurunan atau bahkan kehilangan kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari. Pada kondisi ini, seorang ibu membutuhkan dukungan dari orang terdekat bahkan akan lebih baik jika melakukan konsultasi psikologi dengan tenaga profesional.

Jika anda masih kebingungan dengan penjelasan di atas anda dapat menghubungi layanan kami melalui website kami di maragama.com atau menghubungi kontak WhatsApp kami 081229675588.

Semoga informasi diatas bermanfaat bagi kita semua, salam sehat jiwa!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *